Tuesday, June 15, 2010

Penghambaan sebuah hati yg terluka

Ya Tuhan, Engkau telah menunjukkan kelembutan-Mu setelah aku kehilangan dunia dan segala isinya.

 
Demi zat-Mu yang maha suci, sejak hari ini aku tidak akan menyimpang dari pintu kasih-Mu meski seluruh isi dunia dikembalikan kepadaku.


Biarlah semua orang menzalimi diriku, menipuku, menyulut api kebencian, atau memenjarakan diriku dalam kegelapan atau kesendirian.


Demi zat-Mu yang akan selalu kusembah, semua itu tidak akan merugikan diriku ataupun memutuskan benang terkecil dari benang-benang harapanku.


Apa arti derita kesabaran bagi diri jika telah menikmati hidayah-Mu yang menyinari jiwa?


Betapa mudahnya kegelapan ini jika telah menemukan cahaya-Mu di antara tulang rusuk yang membahagiakan diriku.


Betapa manisnya siksaan bagi hatiku selagi rahmat dan kelembutan-Mu selalu menemani.


(page 221. The Forbidden Wine)

Sentuhan Kesedihan

Ya Tuhan, apakah Engkau tidak melihat keadaaan diriku?

Aku adalah hambamu yang lemah.
Mengapa aku harus menjalani semua nestapa yang berat ini?
Tuhan, hamba-hambaMu di dunia tidak tersentuh hatinya oleh derita dan nestapaku. Bahkan seperti yg Engkau lihat, mereka semakin memperparah deritaku.
Hamba-hambaMu di dunia menghalangiku dari memperoleh bekal perjalanan melintasi kehidupan fana ini.
Kasihanilah diriku, Tuhan.
Sungguh sejak hari ini aku berjanji hanya akan memohon kepada-Mu, hanya akan menangis di pangkuan-Mu, dan hanya akan merendahkan diri dihadapan kekuasaan-Mu.


(page 220, The Forbidden Wine)

Harapan Kebahagiaan....

Tentang keputusasaan…mampukah seluruh isi dunia membuat hatiku putus asa?

Demi tubuh yang ketegapannya memikatku, demi lirikan mata yang keindahannya memabukkanku, demi sinar yang memantulkan cahayanya kepadaku, dan demi keindahan yang hanya aku rasakan pahit dan deritanya, aku bersumpah semua siksaan ini tidak akan menghilangkan kedamaian dan ketenanganku


Tak ada yang mampu menghilangkan harapan pertemuanku bahkan seandainya terhalang oleh tirai kematian!


Tak ada yang lebih indah dari nikmat bahagia di bawah bayang2 keabadian dan sayap kelembutan-Mu.


(ps: page 222, The Forbidden Wine)