Ya Tuhan, Engkau telah menunjukkan kelembutan-Mu setelah aku kehilangan dunia dan segala isinya.
Demi zat-Mu yang maha suci, sejak hari ini aku tidak akan menyimpang dari pintu kasih-Mu meski seluruh isi dunia dikembalikan kepadaku.
Biarlah semua orang menzalimi diriku, menipuku, menyulut api kebencian, atau memenjarakan diriku dalam kegelapan atau kesendirian.
Demi zat-Mu yang akan selalu kusembah, semua itu tidak akan merugikan diriku ataupun memutuskan benang terkecil dari benang-benang harapanku.
Apa arti derita kesabaran bagi diri jika telah menikmati hidayah-Mu yang menyinari jiwa?
Betapa mudahnya kegelapan ini jika telah menemukan cahaya-Mu di antara tulang rusuk yang membahagiakan diriku.
Betapa manisnya siksaan bagi hatiku selagi rahmat dan kelembutan-Mu selalu menemani.
(page 221. The Forbidden Wine)
No comments:
Post a Comment