Ya Tuhan, apakah Engkau tidak melihat keadaaan diriku?
Aku adalah hambamu yang lemah.
Mengapa aku harus menjalani semua nestapa yang berat ini?
Tuhan, hamba-hambaMu di dunia tidak tersentuh hatinya oleh derita dan nestapaku. Bahkan seperti yg Engkau lihat, mereka semakin memperparah deritaku.
Hamba-hambaMu di dunia menghalangiku dari memperoleh bekal perjalanan melintasi kehidupan fana ini.
Kasihanilah diriku, Tuhan.
Sungguh sejak hari ini aku berjanji hanya akan memohon kepada-Mu, hanya akan menangis di pangkuan-Mu, dan hanya akan merendahkan diri dihadapan kekuasaan-Mu.
(page 220, The Forbidden Wine)
Tuesday, June 15, 2010
Harapan Kebahagiaan....
Tentang keputusasaan…mampukah seluruh isi dunia membuat hatiku putus asa?
Demi tubuh yang ketegapannya memikatku, demi lirikan mata yang keindahannya memabukkanku, demi sinar yang memantulkan cahayanya kepadaku, dan demi keindahan yang hanya aku rasakan pahit dan deritanya, aku bersumpah semua siksaan ini tidak akan menghilangkan kedamaian dan ketenanganku
Tak ada yang mampu menghilangkan harapan pertemuanku bahkan seandainya terhalang oleh tirai kematian!
Tak ada yang lebih indah dari nikmat bahagia di bawah bayang2 keabadian dan sayap kelembutan-Mu.
(ps: page 222, The Forbidden Wine)
Demi tubuh yang ketegapannya memikatku, demi lirikan mata yang keindahannya memabukkanku, demi sinar yang memantulkan cahayanya kepadaku, dan demi keindahan yang hanya aku rasakan pahit dan deritanya, aku bersumpah semua siksaan ini tidak akan menghilangkan kedamaian dan ketenanganku
Tak ada yang mampu menghilangkan harapan pertemuanku bahkan seandainya terhalang oleh tirai kematian!
Tak ada yang lebih indah dari nikmat bahagia di bawah bayang2 keabadian dan sayap kelembutan-Mu.
(ps: page 222, The Forbidden Wine)
The Forbidden Wine : Simfoni Keabadian Cinta
Akan kubangkitkan lantunan penyesalan dan dukacita yang telah memejamkan kedua matanya… Kan kusulut kembali keluh napas panjang yang terhembus dari dada, dan api yang pernah membara di dalam hati…Ini adalah kisah nyata… tentang pungguk merindukan bulan; tentang lelaki biasa merindukan putri istana; tentang Mamo dan Zain.Kecantikan seorang wanita baru bisa sempurna jika ada pria yang menjadi cermin dari kecantikan tersebut. Begitu pula, ketampanan seorang pria baru bermakna jika ada seorang wanita yang memaknai arti ketampanan itu.Mamo dan Zain adalah cermin sempurna bagi satu sama lain.Dewa cinta tak pernah bisa terus duduk di singgasana hati, di balik tirai tersembunyi. Mamo dan Zain mabuk asmara. Di mata mereka dunia telah sirna. Batas-batas ruang dan waktu tak lagi ada, karena semua telah musnah ditelan ombak bahagia.Namun bahagia sirna, nestapa memupus asa. Amir Zainuddin, sang penguasa negeri dan kakak dari Putri Zain, menjadi penghalang cinta mereka berdua; cinta tulus dan suci dari kedalaman hati.
Mati segan, hidup pun tak mau. Itulah Mamo; pencinta yang hancur oleh rasa putus asa setelah sebelumnya harapannya hampir berbunga. Badai nestapa mengusik segala derita. Begitu pula Zain, yang kerap meracau di hadapan sang Amir, “Sedih dan duka adalah bagianku, sedang kuasa dan bahagia adalah bagianmu. Tolong, sedikit pun jangan rebut bagianku.”
Note: Taken from my other blog (06 Oct' 07)
Subscribe to:
Posts (Atom)